Sudah beberapa waktu, istri dan sahabatku mengingatkanku akan kondisi seorang guruku sekaligus sahabatku. Saat itu aku hanya menjawab insya Allah segera setelah luang dari kesibukan yang ada. Secara kebetulan ada anggota jamaah pengajian yang berkunjung ke rumah dan bertemu dengan istri, dan secara tidak sengaja beliau menceritakan kondisi terakhir dari guruku tersebut yang saat ini sudah masuk rumah sakit kembali untuk menjalani operasi.
Beliau menceritakan dengan gamblang apa yang terjadi dengan kondisi kesehatan guruku tersebut. Bahkan beliau pun menyampaikan bahwa sudah sangat memprihatinkan, dengan tubuh yang terbalut tulang, dan cairan yang terus keluar dari lubang yang sengaja dibuat oleh tim dokter di sebelah kiri dadanya.
Saat itu istri hanya mendengarkan dengan seksama penuturan dari jamaah pengajianku.
Ketika aku pulang ke rumah, istri pun menceritakan kembali apa yang dia dengarkan. Istri pun memohon dengan sangat agar aku meluangkan waktu untuk menjenguknya, mengingat kedekatan beliau kepada ku maupun kepada jamaah pengajianku sudah terjalin begitu lama. Boleh di bilang beliau pun punya andil terhadap jamaah pengajian yang aku kelola saat ini.
Akhirnya aku pun menyampaikan ke istriku, insya Allah segera berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk beliau. Malam itu pun kami bermusyawarah untuk mengatur ulang jadwalku khususnya, mengingat aku ada beberapa janji dengan beberapa orang. Setelah diatur dan dikomunikasikan dengan pihak lain, akhirnya aku putuskan untuk berkunjung pada hari ahad pagi walaupun hari itu ada acara lain yang aku harus hadiri dengan sangat terpaksa aku tidak ikut serta dan sebagai gantinya aku bagi tugas dengan istri.
Hari ahad, tanggal 18 September 2011 pukul 08.30 aku berangkat. Pertama kali aku antar istri dan anakku ke lokasi acara halal bi halal, setelah aku antarkan mereka dan bertemu dengan panitia sambil mengajukan permohonan maaf karena tidak bisa ikut acara ini karena ingin berkunjung ke guruku.
Aku pun berangkat kembali menuju RSAD Sudirman, Sesampainya di parkiran, aku segera meluncur ke ruang Anggrek kamar 11. Setelah menemukan kamarnya, sempat ragu sejenak apakah benar ini kamarnya. Akhirnya aku pun bertanya kepada petugas untuk memastikan. Alhamdulillah ternyata benar. Aku pun mengetuk pintu untuk minta izin masuk. Selang tak berapa lama kemudian pintu pun terbuka. Ternyata yang membuka pintu adalah istrinya dan mempersilakan aku masuk. Aku pun masuk sambil mengucapkan salam kepada beliau yang terbaring lemah di pembaringan.
Sungguh aku sangat terkejut dengan kondisi yang dialami beliau. Setelah menjabat tangannya dengan erat, sungguh tak di duga, beliau masih mengingatku dengan baik, padahal informasi yang aku terima sebelumnya, beliau mulai sedikit lupa karena sakit yang dideritanya.
Setelah melihat kondisi beliau, aku terdiam beberapa saat, aku berusaha sekuat tenaga agar air mata ini tidak jatuh berurai. Aku pun menata hati dan memulai dengan pembicaraan yang ringan.
Sungguh siapapun yang melihat kondisi beliau, pasti tidak akan menyangka. Ditengah kondisi sakit beliau yang berat, ketika beliau terbangun dari tertidur walau itu tidak lama, beliau selalu menanyakan apakah sudah masuk waktu sholat. Kami pun senantiasa mengingatkan belum, insya Allah nanti kalau sudah masuk waktu pasti akan diberitahu. Beliau juga bercerita kepadaku, betapa beliau merasa sangat sedih karena sudah sangat lama tidak sholat berjamaah di masjid dan mengikuti sholat jum'at mengingat kondisi beliau yang tidak memungkinkan untuk bisa pergi ke masjid. Beliau sangat takut kalau beliau tidak termasuk orang-orang yang menegakkan sholat. Aku hibur beliau bahwa Allah Maha Tahu dan ada rukhshoh terkait dengan kondisi yang beliau alami saat ini.
Tak terasa kami pun saling bercerita mengingat masa lalu. Mengingat waktu kita pergi ke puncak keramat di bedugul. Saat itu beliau sedikit tertawa mengenang peristiwa itu karena saat itu beliau sampai mencret karena begitu jauhnya jarak perjalanan. Tetapi beliau menyampaikan ketika sampai puncak hilang semua sakit dan beban yang ada, yang ada hanya rasa syukur yang teramat sangat karena masih bisa melihat keindahan alam ciptaan Allah.
Tak terasa 1 jam lebih kami saling bercengkerama sampai pada akhirnya aku pun izin pamit pulang karena harus menjemput istriku di tempat lain. Hanya seuntai senyum dan permohonan doa yang beliau sampaikan kepadaku agar Allah memberi yang terbaik untuknya. Aku pun mengangguk pelan sambil berusaha menahan air mata ini. Aku pun pamit pulang dan keluar dari ruangan beliau.
Akhirnya setelah keluar ruangan, aku tak mampu lagi menahan air mata ini. Aku hanya bisa memohon kepada Allah agar sakit beliau menjadikan beliau mejadi lebih baik, karena Allah lah Yang Maha Tahu dengan semua ini.
Mungkin bagi sebagian orang beliau bukan siapa-siapa, tapi bagiku beliau adalah guru kehidupan. Beliau memberikan contoh dedikasi yang luar biasa dalam mendidik anak-anak. Beliau lah yang mendidik anak-anak maupun orang tua dengan cinta dan kasih sayang. Beliau tidak pernah mengeluh. Beliau bahkan cenderung mengalah untuk kebaikan bersama. Betapa banyak orang-orang yang tersentuh hatinya dengan pendekatan yang beliau lakukan kepada masyarakat. Pribadi yang ramah dan murah senyum. Senantiasa berusaha melayani masyarakat tanpa pamrih. Beliau berusaha memberikan yang terbaik untuk masyarakat walau beliau sendiri mungkin harus menderita.
Beliau memang benar-benar guru sejati. Aku pun mengaku bahwa aku banyak belajar kepadanya dalam hal pendekatan sosial kepada masyarakat di sekitar kita.
Semoga aku bisa mengambil pelajaran dari beliau.
Semoga Allah memberi yang terbaik untuk guruku, H. PURNOMO SIDIQ. Aku mencintainya karena Allah..Maafkan aku yang baru bisa hadir menemanimu walau hanya sesaat, semoga itu bisa memompa semangat agar kita bisa berkumpul dan berdiskusi kembali tentang banyak hal.
Doa kami untuk guruku...
esa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar