Tak terasa sudah 6 tahun berjalan hidup disebuah negeri yang berbeda dengan sebelumnya.
Awal pertama masuk kedalam negeri, memiliki sebongkah harapan untuk berbuat dan menjadi sesuatu.
Inilah nikmatnya menjadi manusia, ada saja permasalahan yang muncul
Bisa jadi karena ini merupakan proses pembelajaran untuk saling mengenal antara satu dengan yang lainnya
Akan tetapi sekian lama waktu terus berjalan, masalah terus aja ada
Kadang ada rasa jenuh melanda karena permasalahan yang ada lebih cenderung masalah personal
Seringkali masalah yang ada tidak pernah dituntaskan dengan tuntas
Yang pada akhirnya menjadi bom waktu
Dan ini terus terjadi dan terus terjadi
Mencoba memahami pola pikir dari saudara-saudara yang lain
akan tetapi terada ada tembok penghalang yang membuat suasana jadi kurang nyaman dan kondusif
Mencoba menata hati agar jangan sampai ada penyakit hati melanda hati ini
Senantiasa mencoba bertahan dengan segenap kemampuan yang ada
Mencoba kembali menata hubungan dengan cara lebih elegan
Mencoba kembali mengurai benang kusut yang ada
Ternyata memang daya tahan manusia ada batasnya
Pada sisi inilah yang membuat aku merasa gagal
Sesuatu yang paling aku hindari yaitu kegagalan
Entah kenapa tiba-tiba kau merasa gagal
Entah gagal sebagai manusia yang bisa berbuat sesuatu
atau gagal menjadi sesuatu
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku sebagai manusia
aku merasa gagal
Kegagalan yang membuatku untuk sementara mundur dari gelanggang
Mengevaluasi 6 tahun perjalanan yang terjadi selama ini
Ternyata memang aku tidak siap menerima kondisi yang berbeda
Ternyata aku memang belum mempelajari kondisi yang real ada di negeri ini
Ternyata aku memang harus belajar lagi untuk mengakui kekurangan yang ada selama ini
Ternyata aku memang harus belajar untuk lebih baik lagi
Belajar untuk menjadi diri sendiri
Belajar untuk mencoba bertahan dengan segenap daya upaya yang dimiliki
Dan ternyata itu merupakan hal yang tersulit dalam perjalanan hidup ini
6 tahun sudah berlalu, aku merasa belum menjadi apa-apa dan berbuat apa-apa
6 tahun sudah berlalu, betapa masalah yang terjadi lebih banyak masalah personal
6 tahun sudah berlalu, terlalu banyak disibukkan dengan masalah-masalah personal yang akhirnya membuat kerja ini menjadi tidak optimal
6 tahun sudah berlalu, aku gagal menjadi manusia seutuhnya
Kegagalan yang memang harus aku akui dan aku terima
Dan aku pantas menerima kegagalan ini
Dan saatnya aku mencoba hal lain dalam kehidupan ini
Sesuatu yang baru dan berbeda agar hati ini bisa segera bangkit dan pulih kembali
6 tahun waktu yang cukup untuk belajar mehamami manusia dari negeri ini
manusia yang unik dan berbeda dengan segala kekhasannya
Menjadikanku semakin lebih kaya dengan pengalaman
Pengalaman merasakan kegagalan
Pengalaman merasakan fitnah yang bertubi-tubi
Pengalaman merasakan caci maki dari saudara sendiri
Pengalaman merasa asing
Pengalaman merasakan konflik yang tidak dituntaskan
Sungguh....6 tahun yang berbeda...
Sang Pembelajar
Senantiasa berusaha belajar menjadi yang terbaik agar bisa berdaya guna bagi masyarakat sekitarnya
Selasa, 31 Mei 2011
SPORTIFITAS
Setelah hampir 1 bulan dipenuhi dengan rumor ataupun desas-desus yang membuat kondisi lembaga ini menjadi kurang sehat, aku memutuskan untuk segera mengambil langkah-langkah penting.
Alhamdulillah dalam kurun waktu 1 minggu, Allah memudahkan segala urusan aku bertemu dengan ketua lembaga untuk mencoba mencari informasi yang beredar di mereka. Dengan panjang lebar sang ketua menyampaikan duduk permasalahan yang ada dari sudut pandangnya. Disisi lain, aku pun juga mendengarkan dari pihak yang berseberangan untuk juga mendengarkan masalah yang ada. Aku pun memutuskan untuk mencari 1 orang lagi untuk lebih memperkuat data yang ada dilapangan.
Alhamdulillah pada minggu lalu disaat aku takziah ke rumahnya bertemu langsung, setelah basa-basi dan menyampaikan belasungkawa, aku pun mencoba untuk menanyakan permasalahan yang ada dari sudut pandangnya.
Setelah mendengarkan dari 4 orang yang terlibat, akhirnya dengan wewenang yang aku miliki sebagai pembina yayasan, aku memutuskan untuk memberi mereka pembelajaran dalam menyelesaikan persoalan yang ada ditengah-tengah mereka.
Pada minggu malam kemarin, waktu yang disepakati untuk mengumpulkan seluruh jajaran pengurus yayasan, akhirnya sebagian besar pengurus hadir pada acara tersebut.
Setelah dibuka dan mendengarkan pemaparan dari ketua tentang perkembangan yayasan dan rencana yayasan kedepan. Setelah itu baru giliranku untuk memberikan pengarahan kepada mereka. Setelah menjelaskan siklus sebuah organisasi yang harus dijalankan dan juga tantangan yayasan kedepan, bahwa kedepan permasalahan utama adalah internal. Ini harus disikapi dengan bijak dan matang agar tidak menimbulkan friksi-friksi yang mungkin saat ini terjadi. Setelah pemaparan maka dimulainya diskusi untuk membuka dan menyelesaikan permasalahan. Dan ternyata luar biasa, ada oknum yang tidak diundang memberikan statement yang membuat salah seorang pengurus terpancing, akhirnya mulailah debat panas terjadi. Saat itu aku hanya mendengarkan seluruh ungkapan dan statement dari masing-masing pihak. Ada yang menyalahkan ada juga yang menjelaskan. Ada yang memancing, ada juga yang terpancing. Yang pada akhirnya semua sama-sama saling mempertahankan argumentasinya masing-masing.
Setelah puas mendengarkan kondisi debat yang panas dan situasi yang mulai kurang kondusif, akhirnya aku pun meminta izin untuk berbicara sesuai dengan kewenangan yang aku miliki.
Pelan-pelan kusimpulkan hasil perdebatan yang tadi berlangsung, dalam kondisi yang panas, aku mencoba membawa suasana santai, bahkan aku pun memberi statement sambil tertawa sambil mengatakan bahwa dalam rapat panas itu biasa yang penting setelah keluar dingin kembali. Mari kita belajar sportif dalam menghadapi masalah ini.
Saat itu aku kritisi ungkapan dari oknum untuk mengingatkannya bahwa kurang bijak rasanya kalau kita menyampaikan pesan dari seseorang yang tidak berani menyampaikan persoalan itu kepada yayasan. Kalau memang orang itu sportif dan tidak memiliki penyakit hati, buat apa dia menyuruh orang untuk menyampaikan permasalahannya. Jangan sampai kita di adu domba dengan isu atau rumor yang belum jelas permasalahannya.
Saat itu secara tegas aku sampaikan agar kita mau belajar sportif dalam menyelesaikan. Kalau itu masalah pribadi mari diselesaikan secara pribadi. Sebaliknya jika itu menyangkut mari diselesaikan secara kelembagaan. Akhirnya pada kesempatan tersebut, sang ketua meminta maaf secara terbuka karena salah dalam pengambilan keputusan beberapa waktu yang lalu. Dan akhirnya di pihak yang lain, juga secara sportif meminta maaf kepada ketua dan pengurus karena salah dalam memahami permasalahan.
Sebuah kondisi yang sering kita jumpai di tengah masyarakat yang mungkin kita juga pernah mengalami hal ini
.
Betapa banyak diantara kita yang tidak sportif dalam menghadapi masalah, seringkali ketika kita tidak berani, kita cenderung mencoba mencari pendukung dengan memberikan informasi yang mungkin bisa berdampak yang kurang baik di masa yang akan datang. Sekarang semua kembali kepada kita sendiri. Dimana posisi kita ...?
Alhamdulillah dalam kurun waktu 1 minggu, Allah memudahkan segala urusan aku bertemu dengan ketua lembaga untuk mencoba mencari informasi yang beredar di mereka. Dengan panjang lebar sang ketua menyampaikan duduk permasalahan yang ada dari sudut pandangnya. Disisi lain, aku pun juga mendengarkan dari pihak yang berseberangan untuk juga mendengarkan masalah yang ada. Aku pun memutuskan untuk mencari 1 orang lagi untuk lebih memperkuat data yang ada dilapangan.
Alhamdulillah pada minggu lalu disaat aku takziah ke rumahnya bertemu langsung, setelah basa-basi dan menyampaikan belasungkawa, aku pun mencoba untuk menanyakan permasalahan yang ada dari sudut pandangnya.
Setelah mendengarkan dari 4 orang yang terlibat, akhirnya dengan wewenang yang aku miliki sebagai pembina yayasan, aku memutuskan untuk memberi mereka pembelajaran dalam menyelesaikan persoalan yang ada ditengah-tengah mereka.
Pada minggu malam kemarin, waktu yang disepakati untuk mengumpulkan seluruh jajaran pengurus yayasan, akhirnya sebagian besar pengurus hadir pada acara tersebut.
Setelah dibuka dan mendengarkan pemaparan dari ketua tentang perkembangan yayasan dan rencana yayasan kedepan. Setelah itu baru giliranku untuk memberikan pengarahan kepada mereka. Setelah menjelaskan siklus sebuah organisasi yang harus dijalankan dan juga tantangan yayasan kedepan, bahwa kedepan permasalahan utama adalah internal. Ini harus disikapi dengan bijak dan matang agar tidak menimbulkan friksi-friksi yang mungkin saat ini terjadi. Setelah pemaparan maka dimulainya diskusi untuk membuka dan menyelesaikan permasalahan. Dan ternyata luar biasa, ada oknum yang tidak diundang memberikan statement yang membuat salah seorang pengurus terpancing, akhirnya mulailah debat panas terjadi. Saat itu aku hanya mendengarkan seluruh ungkapan dan statement dari masing-masing pihak. Ada yang menyalahkan ada juga yang menjelaskan. Ada yang memancing, ada juga yang terpancing. Yang pada akhirnya semua sama-sama saling mempertahankan argumentasinya masing-masing.
Setelah puas mendengarkan kondisi debat yang panas dan situasi yang mulai kurang kondusif, akhirnya aku pun meminta izin untuk berbicara sesuai dengan kewenangan yang aku miliki.
Pelan-pelan kusimpulkan hasil perdebatan yang tadi berlangsung, dalam kondisi yang panas, aku mencoba membawa suasana santai, bahkan aku pun memberi statement sambil tertawa sambil mengatakan bahwa dalam rapat panas itu biasa yang penting setelah keluar dingin kembali. Mari kita belajar sportif dalam menghadapi masalah ini.
Saat itu aku kritisi ungkapan dari oknum untuk mengingatkannya bahwa kurang bijak rasanya kalau kita menyampaikan pesan dari seseorang yang tidak berani menyampaikan persoalan itu kepada yayasan. Kalau memang orang itu sportif dan tidak memiliki penyakit hati, buat apa dia menyuruh orang untuk menyampaikan permasalahannya. Jangan sampai kita di adu domba dengan isu atau rumor yang belum jelas permasalahannya.
Saat itu secara tegas aku sampaikan agar kita mau belajar sportif dalam menyelesaikan. Kalau itu masalah pribadi mari diselesaikan secara pribadi. Sebaliknya jika itu menyangkut mari diselesaikan secara kelembagaan. Akhirnya pada kesempatan tersebut, sang ketua meminta maaf secara terbuka karena salah dalam pengambilan keputusan beberapa waktu yang lalu. Dan akhirnya di pihak yang lain, juga secara sportif meminta maaf kepada ketua dan pengurus karena salah dalam memahami permasalahan.
Sebuah kondisi yang sering kita jumpai di tengah masyarakat yang mungkin kita juga pernah mengalami hal ini
.
Betapa banyak diantara kita yang tidak sportif dalam menghadapi masalah, seringkali ketika kita tidak berani, kita cenderung mencoba mencari pendukung dengan memberikan informasi yang mungkin bisa berdampak yang kurang baik di masa yang akan datang. Sekarang semua kembali kepada kita sendiri. Dimana posisi kita ...?
Selasa, 24 Mei 2011
PELAJARAN
Kemarin pagi tiba-tiba HP berbunyi, ternyata ada sms masuk dari teman lama yang mengabarkan bahwa salah seorang sahabat dimasa SMP dan SMA telah meninggal dunia. Sempat bertanya apa yang menjadi penyebab kematiannya di usia yang masih produktif. Ternyata info yang diterima karena masalah jantung atau empedu.
Kabar yang tiba-tiba membuatku termenung beberapa saat lamanya.
Belum habis masa termenungku, ternyata ada kabar lagi yang masuk bahwa ada ibu dari temanku juga meninggal dunia. Lalu bergegas aku menelponnya untuk memastikan kabarnya dan juga menyampaikan bela sungkawa atas kematian orangtuanya. Dari temanku menjelaskan bahwa memang ibunya telah 1 bulan drop karena sakit yang sudah berlangsung lama dan juga faktor usia yang sepuh.
Beberapa hari sebelumnya seorang guru dalam kehidupan juga telah dipanggil Yang Maha Kuasa lewat musibah kecelakaan...
Memang hidup dan mati itu rahasia ilahi. Kadang terlintas dalam pikiran, bagaimana kehidupan nanti ya..Sempat khawatir dan taku mengingat masih banyak noda dan dosa dalam diri ini. Apakah pantas untuk mendapat yang terbaik dari Yang Maha Kuasa.
Memang kematian itu adalah pelajaran yang mahal dan penting. Berapa banyak dari kita yang bisa mengambil pelajaran dari sana. Kematian adalah pintu gerbang menuju keabadian. Kembali kepada kita, apakah kita mau belajar dari sana.
Kekhawatiran yang terbesar adalah bagaimana Allah mematikan saya ini. Apakah Yang Maha Kuasa mematikan dalam keadaan yang terbaik ataukah sebaliknya kematian yang buruk. Kita tidak bisa mengandalkan amal sholih semata karen itu semua belum menjadi tolok ukur dalam akhir kehidupan kita. Akan tetapi orang-orang yang mengiringi kita ke alam kubur itu menjadi saksi atas kualitas amal kita dihadapan Allah. Dan itu menjadi pertanda kematian yang baik.
Ya Allah jadikan akhir kehidupanku adalah kehidupan yang baik. Ya Allah aku ingin ketika Engkau memanggilku, ada jutaan orang yang mengiringi dan merasa kehilangan karena mereka merasakan betapa berartinya diriku buat mereka. Orang-orang yang mengiringi ku mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah aku lakukan. Ya Allah janganlah Engkau akhirkan kehidupanku dengan kematian yang buruk. Yang orang-orang merasa bersyukur atas kematianku kelak karena keburukan akhlak dan perbuatanku. Ya Allah aku memohon kepada Engkau Dzat Yang Maha Agung, agar aku diwafatkan dalam kematian yang terbaik, ditempat yang terbaik dan diiringi oleh orang-orang yang terbaik di mata-Mu ya Allah....
Kabar yang tiba-tiba membuatku termenung beberapa saat lamanya.
Belum habis masa termenungku, ternyata ada kabar lagi yang masuk bahwa ada ibu dari temanku juga meninggal dunia. Lalu bergegas aku menelponnya untuk memastikan kabarnya dan juga menyampaikan bela sungkawa atas kematian orangtuanya. Dari temanku menjelaskan bahwa memang ibunya telah 1 bulan drop karena sakit yang sudah berlangsung lama dan juga faktor usia yang sepuh.
Beberapa hari sebelumnya seorang guru dalam kehidupan juga telah dipanggil Yang Maha Kuasa lewat musibah kecelakaan...
Memang hidup dan mati itu rahasia ilahi. Kadang terlintas dalam pikiran, bagaimana kehidupan nanti ya..Sempat khawatir dan taku mengingat masih banyak noda dan dosa dalam diri ini. Apakah pantas untuk mendapat yang terbaik dari Yang Maha Kuasa.
Memang kematian itu adalah pelajaran yang mahal dan penting. Berapa banyak dari kita yang bisa mengambil pelajaran dari sana. Kematian adalah pintu gerbang menuju keabadian. Kembali kepada kita, apakah kita mau belajar dari sana.
Kekhawatiran yang terbesar adalah bagaimana Allah mematikan saya ini. Apakah Yang Maha Kuasa mematikan dalam keadaan yang terbaik ataukah sebaliknya kematian yang buruk. Kita tidak bisa mengandalkan amal sholih semata karen itu semua belum menjadi tolok ukur dalam akhir kehidupan kita. Akan tetapi orang-orang yang mengiringi kita ke alam kubur itu menjadi saksi atas kualitas amal kita dihadapan Allah. Dan itu menjadi pertanda kematian yang baik.
Ya Allah jadikan akhir kehidupanku adalah kehidupan yang baik. Ya Allah aku ingin ketika Engkau memanggilku, ada jutaan orang yang mengiringi dan merasa kehilangan karena mereka merasakan betapa berartinya diriku buat mereka. Orang-orang yang mengiringi ku mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah aku lakukan. Ya Allah janganlah Engkau akhirkan kehidupanku dengan kematian yang buruk. Yang orang-orang merasa bersyukur atas kematianku kelak karena keburukan akhlak dan perbuatanku. Ya Allah aku memohon kepada Engkau Dzat Yang Maha Agung, agar aku diwafatkan dalam kematian yang terbaik, ditempat yang terbaik dan diiringi oleh orang-orang yang terbaik di mata-Mu ya Allah....
Jumat, 20 Mei 2011
KRITIK
Kemarin ketika sedang asyik bekerja, tiba-tiba ada sms masuk yang tidak diketahui namanya. Aku membuka dan membacanya. Ada hal yang menarik dari sms itu, orang tersebut menyampaikan kritik kepadaku tanpa menyertakan nama dan alasannya. Beliau hanya menyampaikan pesan dari sebagian orang-orang bahwa aku itu orangnya galak,egois, mau menang sendiri, suka ngeles, banyak alasan sehingga tidak ada yang bisa ngalahkan hujjahku...Saat itu aku hanya membaca dan terdiam sesaat..aku hanya membalas smsnya terima kasih.
Hmmmm..banyak cara orang memberi kritik, ada yang terbuka, ada yang diam-diam, bahkan ada yang ngomong di belakang...Semua tergantung dari individu masing-masing. Akan tetapi ada satu pelajaran yang bisa diambil dari kritik itu, kebetulan aku termasuk orang yang vulgar dan berusaha untuk tetap sportif dalam menyampaikan kritik, yaitu apapun kritik yang diberikan itu menunjukkan dua hal kepada yaitu pertama perhatian dan kasih sayang, kedua sebaliknya yaitu kebencian kepada yang bersangkutan. Kembali kepada kita masing-masing.
Satu kebiasaan jelekku adalah jika kritik itu tidak pernah disampaikan langsung kepadaku, biasanya aku sangat cuek dan tidak peduli dengan orang-orang yang hanya berani ngomong di belakang. Akan tetapi sebaliknya jika kritik itu disampaikan langsung, maka aku sangat menghargai keberaniannya untuk sampaikan hal itu. Yang jadi masalah adalah tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengkritik secara fair kepada yang bersangkutan. Ini adalah masalah mentalitas yang memang harus diperbaiki. Disisi lain penyakit mental kritik itu adalah menyerang sisi pribadi bukan pada perbuatan maupun kerja orang itu. Ini juga membuat kritik itu tidak membangun malah cenderung jadi kontra produktif. Mengapa demikian ,karena kita disibukkan dengan hal yang remeh temeh. Kita disibukkan dengan masalah yang sampah, kita dialihkan dengan masalah yang utama. Mungkin ini terjadi karena kebiasaan masyarakat maupun bangsa kita yang cenderung melatih kita untuk tidak sportif atau tidak berani secara terbuka menyampaikan kritik kepada siapapun.
Ala kulli hal membangun kebiasaan sportif adalah proses yang panjang dan butuh tekad yang kuat dan yang tak kalah penting keberanian untuk menerima kritik secara lapang dada itu juga merupakan PR besar yang memang sama-sama harus dimiliki secara bersamaan. Semoga aku termasuk orang-orang yang selalu belajar dari pengalaman sehingga aku semakin lebih baik lagi dalam kehidupan ini dimasa yang akan datang.
Hmmmm..banyak cara orang memberi kritik, ada yang terbuka, ada yang diam-diam, bahkan ada yang ngomong di belakang...Semua tergantung dari individu masing-masing. Akan tetapi ada satu pelajaran yang bisa diambil dari kritik itu, kebetulan aku termasuk orang yang vulgar dan berusaha untuk tetap sportif dalam menyampaikan kritik, yaitu apapun kritik yang diberikan itu menunjukkan dua hal kepada yaitu pertama perhatian dan kasih sayang, kedua sebaliknya yaitu kebencian kepada yang bersangkutan. Kembali kepada kita masing-masing.
Satu kebiasaan jelekku adalah jika kritik itu tidak pernah disampaikan langsung kepadaku, biasanya aku sangat cuek dan tidak peduli dengan orang-orang yang hanya berani ngomong di belakang. Akan tetapi sebaliknya jika kritik itu disampaikan langsung, maka aku sangat menghargai keberaniannya untuk sampaikan hal itu. Yang jadi masalah adalah tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengkritik secara fair kepada yang bersangkutan. Ini adalah masalah mentalitas yang memang harus diperbaiki. Disisi lain penyakit mental kritik itu adalah menyerang sisi pribadi bukan pada perbuatan maupun kerja orang itu. Ini juga membuat kritik itu tidak membangun malah cenderung jadi kontra produktif. Mengapa demikian ,karena kita disibukkan dengan hal yang remeh temeh. Kita disibukkan dengan masalah yang sampah, kita dialihkan dengan masalah yang utama. Mungkin ini terjadi karena kebiasaan masyarakat maupun bangsa kita yang cenderung melatih kita untuk tidak sportif atau tidak berani secara terbuka menyampaikan kritik kepada siapapun.
Ala kulli hal membangun kebiasaan sportif adalah proses yang panjang dan butuh tekad yang kuat dan yang tak kalah penting keberanian untuk menerima kritik secara lapang dada itu juga merupakan PR besar yang memang sama-sama harus dimiliki secara bersamaan. Semoga aku termasuk orang-orang yang selalu belajar dari pengalaman sehingga aku semakin lebih baik lagi dalam kehidupan ini dimasa yang akan datang.
Kamis, 19 Mei 2011
Hj. SARIMAH Binti H. MESIR
Terlintas dalam pikiran melayang jauh ke belakang mengingat momen - momen indah bersama nenek tercinta.
Tanpa beliau takkan mungkin aku akan menjadi seperti ini. Beliau lah yang selama ini merawat dan membesarkanku. Tanpa menafikan keberadaan orang tuaku, bahwa memang masa-masa kecil hingga dewasa, aku selalu bersamanya. Seringkali jika aku bepergian jauh, maka orang yang pertama kali kucari adalah nenekku, maka seringkali orang tuaku, paman dan bibiku sering meledekku bahwa nenekku adalah ibu pertamaku.
Aku teringat betul ketika di waktu kecil dulu betapa nenekku sangat kuat menanamkan agama kepadaku. Beliau sering kali mengecek apakah aku bersama paman dan bibiku sudah menunaikan sholat jika kami baru datang dari bepergian. Bahkan aku ingat betul, kalo waktunya sholat shubuh, kalau kami tidak bangun setelah dibangunkan dengan lembut, maka tak segan-segan nenekku memukul atau menyiramkan air kepada kami untuk segera menunaikan sholat shubuh di mushola dekat rumah. Kalau sudah begitu kami segera berlarian untuk menuju mushola dekat rumah dan yang pasti kami kalah cepat dengan kakekku...he..he..he..Beliau sering menyampaikan bahwa anak laki itu harus sholat dimushola or masjid bukan dirumah. Dirumah itu hanya untuk anak perempuan, kecuali kalau aku ingin jadi anak perempuan.
Ada peristiwa yang sangat berkesan begitu dalam pada diriku, yaitu ketika aku diserahkan kepada seorang guru untuk diajarkan mengaji dan agama, aku ingat betul pada saat itu aku mungkin baru berusia sekitar 5 tahunan. Beliau mengatakan kepada guru ngajiku, kalau anak ini nakal dan malas belajar jangan sungkan-sungkan untuk memarahi bahkan memukulnya. Saat itu aku sangat kaget kok ada ya nenek begitu teganya mengatakan demikian kepada orang lain. Ternyata baru aku sadari betul, bahwa nenekku mengajarkan kemandirian dan tidak boleh mengandalkan nama besar keluarga nenekku. Dan itu membuat guru ngajiku leluasa untuk mendidikku secara sungguh-sungguh tanpa takut maupun sungkan dan memperlakukanku sama dengan murid-murid yang lain. Nenekku ingin mengajarkan bahwa semua orang sama tanpa memandang status sosial mereka. Dari sanalah aku juga belajar banyak tentang teman-temanku dari berbagai kalangan bahwa sebenarnya mereka semua sama dengan kita.
Ada lagi pelajaran yang aku dapatkan dari nenekku tercinta. Dahulu nenek dan kakekku sering menghadiri undangan maupun hajatan yang diadakan siapapun. Dimanapun lokasinya pasti nenekku menghadirinya. Aku ingat ketika menghadiri undangan atau hajatan pasti kami berjalan kaki menyusuri jalan ditengah kegelapan malam. Sering aku bertanya mengapa kita harus datang kepada mereka padahal aku tidak mengenal mereka dan yang pasti aku pun tidak ada temen main disana. Nenekku sering mengatakan bahwa kita harus menjaga silaturahim dengan siapapun baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, karena banyak saudara itu menambah rezeki. Aku pribadi sangat kagum dengan nenekku, beliau sangat rajin silaturahim dengan siapapun dan itu dilakukan dengan berjalan kaki. Kadang aku mengeluh capek karena terlalu jauh jarak yang ditempuh, maka tak segan-segan nenekku menggendongku. Aku sungguh-sungguh merasa sangat dekat dengan beliau.
Dibalik sikapnya yang keras ada nilai-nilai yang beliau tanamkan kepada kami dan itu sangat tertancap kuat kepadaku hingga kini.
Tapi kini beliau telah tiada, ada kehilangan yang luar biasa bagi diriku. Saat ini tidak ada yang bisa menggantikan sosok beliau di hatiku. Beliau lah guru pertamaku. Beliau lah guru kehidupan bagiku. Beliau lah yang mengajarkan kemandirian, keberanian,tanggung jawab, kejujuran, keterusterangan, dan masih banyak lagi yang beliau ajarkan kepadaku dalam banyak interaksi..Sungguh luar biasa pengorbanan beliau kepadaku dan aku takkan sanggup membalas kebaikan-kebaikan yang beliau ajarkan kepadaku.
Ya Allah..lapangkanlah kuburnya..berikan tempat yang terbaik untuknya. Masukkan dia ke dalam surga-Mu..Ampunilah segala dosa-dosanya. Ya Allah..sampaikanlah bahwa aku sangat mencintai dan merindukannya..
Tanpa beliau takkan mungkin aku akan menjadi seperti ini. Beliau lah yang selama ini merawat dan membesarkanku. Tanpa menafikan keberadaan orang tuaku, bahwa memang masa-masa kecil hingga dewasa, aku selalu bersamanya. Seringkali jika aku bepergian jauh, maka orang yang pertama kali kucari adalah nenekku, maka seringkali orang tuaku, paman dan bibiku sering meledekku bahwa nenekku adalah ibu pertamaku.
Aku teringat betul ketika di waktu kecil dulu betapa nenekku sangat kuat menanamkan agama kepadaku. Beliau sering kali mengecek apakah aku bersama paman dan bibiku sudah menunaikan sholat jika kami baru datang dari bepergian. Bahkan aku ingat betul, kalo waktunya sholat shubuh, kalau kami tidak bangun setelah dibangunkan dengan lembut, maka tak segan-segan nenekku memukul atau menyiramkan air kepada kami untuk segera menunaikan sholat shubuh di mushola dekat rumah. Kalau sudah begitu kami segera berlarian untuk menuju mushola dekat rumah dan yang pasti kami kalah cepat dengan kakekku...he..he..he..Beliau sering menyampaikan bahwa anak laki itu harus sholat dimushola or masjid bukan dirumah. Dirumah itu hanya untuk anak perempuan, kecuali kalau aku ingin jadi anak perempuan.
Ada peristiwa yang sangat berkesan begitu dalam pada diriku, yaitu ketika aku diserahkan kepada seorang guru untuk diajarkan mengaji dan agama, aku ingat betul pada saat itu aku mungkin baru berusia sekitar 5 tahunan. Beliau mengatakan kepada guru ngajiku, kalau anak ini nakal dan malas belajar jangan sungkan-sungkan untuk memarahi bahkan memukulnya. Saat itu aku sangat kaget kok ada ya nenek begitu teganya mengatakan demikian kepada orang lain. Ternyata baru aku sadari betul, bahwa nenekku mengajarkan kemandirian dan tidak boleh mengandalkan nama besar keluarga nenekku. Dan itu membuat guru ngajiku leluasa untuk mendidikku secara sungguh-sungguh tanpa takut maupun sungkan dan memperlakukanku sama dengan murid-murid yang lain. Nenekku ingin mengajarkan bahwa semua orang sama tanpa memandang status sosial mereka. Dari sanalah aku juga belajar banyak tentang teman-temanku dari berbagai kalangan bahwa sebenarnya mereka semua sama dengan kita.
Ada lagi pelajaran yang aku dapatkan dari nenekku tercinta. Dahulu nenek dan kakekku sering menghadiri undangan maupun hajatan yang diadakan siapapun. Dimanapun lokasinya pasti nenekku menghadirinya. Aku ingat ketika menghadiri undangan atau hajatan pasti kami berjalan kaki menyusuri jalan ditengah kegelapan malam. Sering aku bertanya mengapa kita harus datang kepada mereka padahal aku tidak mengenal mereka dan yang pasti aku pun tidak ada temen main disana. Nenekku sering mengatakan bahwa kita harus menjaga silaturahim dengan siapapun baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, karena banyak saudara itu menambah rezeki. Aku pribadi sangat kagum dengan nenekku, beliau sangat rajin silaturahim dengan siapapun dan itu dilakukan dengan berjalan kaki. Kadang aku mengeluh capek karena terlalu jauh jarak yang ditempuh, maka tak segan-segan nenekku menggendongku. Aku sungguh-sungguh merasa sangat dekat dengan beliau.
Dibalik sikapnya yang keras ada nilai-nilai yang beliau tanamkan kepada kami dan itu sangat tertancap kuat kepadaku hingga kini.
Tapi kini beliau telah tiada, ada kehilangan yang luar biasa bagi diriku. Saat ini tidak ada yang bisa menggantikan sosok beliau di hatiku. Beliau lah guru pertamaku. Beliau lah guru kehidupan bagiku. Beliau lah yang mengajarkan kemandirian, keberanian,tanggung jawab, kejujuran, keterusterangan, dan masih banyak lagi yang beliau ajarkan kepadaku dalam banyak interaksi..Sungguh luar biasa pengorbanan beliau kepadaku dan aku takkan sanggup membalas kebaikan-kebaikan yang beliau ajarkan kepadaku.
Ya Allah..lapangkanlah kuburnya..berikan tempat yang terbaik untuknya. Masukkan dia ke dalam surga-Mu..Ampunilah segala dosa-dosanya. Ya Allah..sampaikanlah bahwa aku sangat mencintai dan merindukannya..
Rabu, 18 Mei 2011
KENANGAN
Setiap kita pasti memiliki kenangan yang tersimpan di bawah alam sadar. Apapun kenangan itu yang baik maupun yang buruk, setiap kita pasti pernah merasakan hal itu. Kenangan itu terjadi karena ada peristiwa yang kita alami di masa lalu. Peristiwa yang menghunjam hati, menggetarkan jiwa bahkan bisa meledakkan seluruh emosi yang ada. Ketika peristiwa yang terjadi melibatkan sisi emosional kita dan kita merasakan hal itu dengan hati yang senang dan lapang maka itu akan terekam dengan baik
Ketika berbicara kenangan, maka terlintas sebuah peristiwa yang muncul ketika bertemu dengan seseorang yang telah lama tak berjumpa. Maka mengalirlah dalam memori seluruh peristiwa yang pernah terjadi pada masa itu. Baik yang mengenakkan maupun yang tidak mengenakkan. Semua mengalir begitu adanya. Sesuatu yang tak pernah terungkapkan akhirnya jadi terungkap hal-hal yang tidak terkomunikasikan dengan bik. Yang membuat semua jadi lucu dan membuat jadi tertawa bahwa pada saat itu proses pendewasaan belum berjalan dengan baik.
Kenangan itu bisa membuat kita jadi produktif manakala kita bisa mengelolanya dengan baik. Banyk pelajaran yang bisa diambil dari kenangan-kenangan yang pernah kita alami. Minimal kita bisa menjadi lebih baik karena kita berusaha untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi pada kita di masa lalu.
Akan tetapi sebaliknya kenangan itu malah menjadi kontra produktif kalau kita hanya bisa mengenang atau bahkan meratapi atau menyesali peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu, sehingga kita hanyut dengan sisi emosional kita.
Hmmm..memang kenangan itu sepahit apapun merupakan salah satu proses pendewasaan dan belajar agar kita lebih baik. Yang paling penting dari itu semua manakala kita bisa berpikir positif dari semua kenangan yang pernah terjadi pada diri kita masing-masing.
Ketika berbicara kenangan, maka terlintas sebuah peristiwa yang muncul ketika bertemu dengan seseorang yang telah lama tak berjumpa. Maka mengalirlah dalam memori seluruh peristiwa yang pernah terjadi pada masa itu. Baik yang mengenakkan maupun yang tidak mengenakkan. Semua mengalir begitu adanya. Sesuatu yang tak pernah terungkapkan akhirnya jadi terungkap hal-hal yang tidak terkomunikasikan dengan bik. Yang membuat semua jadi lucu dan membuat jadi tertawa bahwa pada saat itu proses pendewasaan belum berjalan dengan baik.
Kenangan itu bisa membuat kita jadi produktif manakala kita bisa mengelolanya dengan baik. Banyk pelajaran yang bisa diambil dari kenangan-kenangan yang pernah kita alami. Minimal kita bisa menjadi lebih baik karena kita berusaha untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi pada kita di masa lalu.
Akan tetapi sebaliknya kenangan itu malah menjadi kontra produktif kalau kita hanya bisa mengenang atau bahkan meratapi atau menyesali peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu, sehingga kita hanyut dengan sisi emosional kita.
Hmmm..memang kenangan itu sepahit apapun merupakan salah satu proses pendewasaan dan belajar agar kita lebih baik. Yang paling penting dari itu semua manakala kita bisa berpikir positif dari semua kenangan yang pernah terjadi pada diri kita masing-masing.
Kamis, 12 Mei 2011
BANGKIT
Setiap kita pasti pernah mengalami kegagalan atau mungkin keterpurukan bahkan mungkin jatuh ke lubang yang amat dalam, akan tetapi berapa banyak dari kita yang bisa bangkit kembali untuk terus berjalan menapaki kehidupan atau bahkan sebaliknya hanya bisa meratapi bahkan menyesali kegagalan atau keterpurukan yang melanda kita...Inilah PR terbesar kita sebagai seorang manusia bahwa untuk bangkit itu butuh energi yang luar biasa agar kita bisa melangkah lagi karena kehidupan ini terus berjalan.
Saya jadi teringat sebuah peristiwa yang pernah saya alami ketika sekolah dulu yang ini menjadi pelajaran yang luar biasa tentang makna bangkit untuk terus berjalan.
Waktu di sekolah dulu, kebetulan saya pernah memukul 3 orang yang secara kebetulan ini menjadi peristiwa yang menghebohkan di sekolah dan orang tua yang anaknya dipukul tidak menerima. Setelah melalui persidangan yang cukup melelahkan dan juga intimidasi, ancaman serta teror yang luar biasa, saya jalani itu semua karena itu resiko yang memang harus saya pikul.
Saya ingat setelah menjalani masa hukuman, saya kembali ke sekolah yang kebetulan hari itu adalah hari senin dan secara kebetulan kelasku mendapat giliran sebagai petugas upacara. Sebagaimana upacara bendera pada masa itu pasti setelah pengibaran ada amanah dari pembina upacara yang kebetulan saat itu adalah kepala sekolahku. Tiba-tiba kepala sekolah memanggil namaku untuk maju ke depan, saat itu aku kaget ada apa ini. Dengan santai tanpa ada beban aku pun maju ke hadapan beliau di tengah lapangan upacara.Tiba - tiba kepala sekolah berkata dengan lantangnya.." Ini Slamet Adi Priyatna, Siswa PALING BRENGSEK DI SEKOLAH INI. JANGAN CONTOH DIA."..sekonyong-konyong bumi rasanya berputar. tak disangka tak dinyana kepala sekolah bisa berkata seperti itu. Aku hanya bisa diam membisu..tak tahu harus berbuat apa..dunia teras sempit...rasa malu, terpuruk, jatuh, seolah-olah tidak ada harganya menjadi satu. Ditengah lapangan upacara dengan disaksikan oleh ratusan siswa dan sebagian guru, aku tak tahu mau ditaruh kemana muka ini. Memang aku nakal, tapi aku bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan. Rasanya sungguh tidak adil jika aku dipermalukan seperti ini. Tapi saat itu aku memang lemah tak berdaya, setelah diitimidasi oleh orang tua siswa sekarang aku mengalami intimidasi yang jauh lebih berat. Akan tetapi aku harus tetap tenang menghadapi itu semua. Saat itu ditengah aku dipermalukan oleh kepala sekolah ku, aku bertekad dan berjanji bahwa sebelum aku lulus, dia harus sudah mencabut statement tentang diriku ditempat yang sama.
Ternyata Allah mengabulkan doaku...dengan izin Allah kebetulan aku dan teman-teman mengikuti Lomba Bidang Studi antar sekolah yang sebenaarnya aku pun tidak boleh untuk ikut serta karena mengingat track recordku, akan tetapi guru pembimbing tetap berupaya fair dengan menguji seluruh siswa siapa yang pantas dan berhak mewakili sekolah dalam lomba itu. Alhamdulillah aku masuk tim 3 yang artinya memang bukan tim unggulan. Saat itupun aku tidak terlalu bersemangat, semua ku ikuti mengalir saja. Dengan izin Allah ternyata timku berhasil masuk ke final dibanding dengan tim 1 dan tim 2 dari sekolahku.Aku teringat dorongan yang luar biasa dari guru pembimbing maupun teman-teman,' Ayo met, kamui bisa buktikan bahwa kamu bisa berprestasi..bahwa kamu bukan murid paling brengsek disekolah.' Dorongan itu melecut semangatku untuk berupaya meraih juara 1 dalam kompetisi itu. Alhamdulillah dengan izin Allah tim sekolahku berhasil menjuarai Lomba Bidang Studi antar sekolah se- DKI Jakarta.. Ada kebanggan yang luar biasa saat itu ketika membawa piala - piala kemenangan. Ketika kami datang, kami disambut bagai pahlawan yang menang perang. Saat itu aku melihat raut wajah yang berbeda dari kepala sekolah dan guru- guru yang melihatku datang membawa kemenangan.
Senin pun tiba..kembali sekolah mengadakan upacara bendera, aku teringat kembali kenangan buruk upacara bendera. Tetapi hari itu, hari yang luar biasa yang tak kan mungkin terlupakan seumur hidup. Kembali aku di panggil untuk maju ke depan bersama tim yang berhasil membawa kemenangan sekolah. Setelah penyerahan piala kepada sekolah dari tim kepada sekolah yang dalam hal ini diwakili kepala sekolah. Kepala sekolah lalu naik ke podium lalu berkata.." Dulu Slamet Adi Priyatna adalah siswa yang paling brengsek, akan tetapi sekarang Slamet Adi Priyatna adalah Siswa Teladan di sekolah ini, maka contoh dia..Luar biasa doaku terkabul..akhirnya kepala sekolah mencabut statement dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Itulah pengalaman dan pelajaran yang pernah saya alami belajar bangkit dari keterpurukan maupun kegagalan.
Sejak saat itu saya tidak pernah lagi mengalami RASA TAKUT GAGAL MAUPUN JATUH KARENA SAYA YAKIN BAHWA SAYA PASTI BISA BANGKIT KEMBALI.....
(Terima kasih untuk guru-guruku serta teman-temanku yang senantiasa mensupport ketika aku jatuh tanpa bantuan mereka tak mungkin aku bisa menjadi seperti ini)
Saya jadi teringat sebuah peristiwa yang pernah saya alami ketika sekolah dulu yang ini menjadi pelajaran yang luar biasa tentang makna bangkit untuk terus berjalan.
Waktu di sekolah dulu, kebetulan saya pernah memukul 3 orang yang secara kebetulan ini menjadi peristiwa yang menghebohkan di sekolah dan orang tua yang anaknya dipukul tidak menerima. Setelah melalui persidangan yang cukup melelahkan dan juga intimidasi, ancaman serta teror yang luar biasa, saya jalani itu semua karena itu resiko yang memang harus saya pikul.
Saya ingat setelah menjalani masa hukuman, saya kembali ke sekolah yang kebetulan hari itu adalah hari senin dan secara kebetulan kelasku mendapat giliran sebagai petugas upacara. Sebagaimana upacara bendera pada masa itu pasti setelah pengibaran ada amanah dari pembina upacara yang kebetulan saat itu adalah kepala sekolahku. Tiba-tiba kepala sekolah memanggil namaku untuk maju ke depan, saat itu aku kaget ada apa ini. Dengan santai tanpa ada beban aku pun maju ke hadapan beliau di tengah lapangan upacara.Tiba - tiba kepala sekolah berkata dengan lantangnya.." Ini Slamet Adi Priyatna, Siswa PALING BRENGSEK DI SEKOLAH INI. JANGAN CONTOH DIA."..sekonyong-konyong bumi rasanya berputar. tak disangka tak dinyana kepala sekolah bisa berkata seperti itu. Aku hanya bisa diam membisu..tak tahu harus berbuat apa..dunia teras sempit...rasa malu, terpuruk, jatuh, seolah-olah tidak ada harganya menjadi satu. Ditengah lapangan upacara dengan disaksikan oleh ratusan siswa dan sebagian guru, aku tak tahu mau ditaruh kemana muka ini. Memang aku nakal, tapi aku bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan. Rasanya sungguh tidak adil jika aku dipermalukan seperti ini. Tapi saat itu aku memang lemah tak berdaya, setelah diitimidasi oleh orang tua siswa sekarang aku mengalami intimidasi yang jauh lebih berat. Akan tetapi aku harus tetap tenang menghadapi itu semua. Saat itu ditengah aku dipermalukan oleh kepala sekolah ku, aku bertekad dan berjanji bahwa sebelum aku lulus, dia harus sudah mencabut statement tentang diriku ditempat yang sama.
Ternyata Allah mengabulkan doaku...dengan izin Allah kebetulan aku dan teman-teman mengikuti Lomba Bidang Studi antar sekolah yang sebenaarnya aku pun tidak boleh untuk ikut serta karena mengingat track recordku, akan tetapi guru pembimbing tetap berupaya fair dengan menguji seluruh siswa siapa yang pantas dan berhak mewakili sekolah dalam lomba itu. Alhamdulillah aku masuk tim 3 yang artinya memang bukan tim unggulan. Saat itupun aku tidak terlalu bersemangat, semua ku ikuti mengalir saja. Dengan izin Allah ternyata timku berhasil masuk ke final dibanding dengan tim 1 dan tim 2 dari sekolahku.Aku teringat dorongan yang luar biasa dari guru pembimbing maupun teman-teman,' Ayo met, kamui bisa buktikan bahwa kamu bisa berprestasi..bahwa kamu bukan murid paling brengsek disekolah.' Dorongan itu melecut semangatku untuk berupaya meraih juara 1 dalam kompetisi itu. Alhamdulillah dengan izin Allah tim sekolahku berhasil menjuarai Lomba Bidang Studi antar sekolah se- DKI Jakarta.. Ada kebanggan yang luar biasa saat itu ketika membawa piala - piala kemenangan. Ketika kami datang, kami disambut bagai pahlawan yang menang perang. Saat itu aku melihat raut wajah yang berbeda dari kepala sekolah dan guru- guru yang melihatku datang membawa kemenangan.
Senin pun tiba..kembali sekolah mengadakan upacara bendera, aku teringat kembali kenangan buruk upacara bendera. Tetapi hari itu, hari yang luar biasa yang tak kan mungkin terlupakan seumur hidup. Kembali aku di panggil untuk maju ke depan bersama tim yang berhasil membawa kemenangan sekolah. Setelah penyerahan piala kepada sekolah dari tim kepada sekolah yang dalam hal ini diwakili kepala sekolah. Kepala sekolah lalu naik ke podium lalu berkata.." Dulu Slamet Adi Priyatna adalah siswa yang paling brengsek, akan tetapi sekarang Slamet Adi Priyatna adalah Siswa Teladan di sekolah ini, maka contoh dia..Luar biasa doaku terkabul..akhirnya kepala sekolah mencabut statement dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Itulah pengalaman dan pelajaran yang pernah saya alami belajar bangkit dari keterpurukan maupun kegagalan.
Sejak saat itu saya tidak pernah lagi mengalami RASA TAKUT GAGAL MAUPUN JATUH KARENA SAYA YAKIN BAHWA SAYA PASTI BISA BANGKIT KEMBALI.....
(Terima kasih untuk guru-guruku serta teman-temanku yang senantiasa mensupport ketika aku jatuh tanpa bantuan mereka tak mungkin aku bisa menjadi seperti ini)
Langganan:
Postingan (Atom)