Sang Pembelajar

Senantiasa berusaha belajar menjadi yang terbaik agar bisa berdaya guna bagi masyarakat sekitarnya

Kamis, 12 Mei 2011

BANGKIT

Setiap kita pasti pernah mengalami kegagalan atau mungkin keterpurukan bahkan mungkin jatuh ke lubang yang amat dalam, akan tetapi berapa banyak dari kita yang bisa bangkit kembali untuk terus berjalan menapaki kehidupan atau bahkan sebaliknya hanya bisa meratapi bahkan menyesali kegagalan atau keterpurukan yang melanda kita...Inilah PR terbesar kita sebagai seorang manusia bahwa untuk bangkit itu butuh energi yang luar biasa agar kita bisa melangkah lagi karena kehidupan ini terus berjalan.
Saya jadi teringat sebuah peristiwa yang pernah saya alami ketika sekolah dulu yang ini menjadi pelajaran yang luar biasa tentang makna bangkit untuk terus berjalan.
Waktu di sekolah dulu, kebetulan saya pernah memukul 3 orang yang secara kebetulan ini menjadi peristiwa yang menghebohkan di sekolah dan orang tua yang anaknya dipukul tidak menerima. Setelah melalui persidangan yang cukup melelahkan dan juga intimidasi, ancaman serta teror yang luar biasa, saya jalani itu semua karena itu resiko yang memang harus saya pikul.
Saya ingat setelah menjalani masa hukuman, saya kembali ke sekolah yang kebetulan hari itu adalah hari senin dan secara kebetulan kelasku mendapat giliran sebagai petugas upacara. Sebagaimana upacara bendera pada masa itu pasti setelah pengibaran ada amanah dari pembina upacara yang kebetulan saat itu adalah kepala sekolahku. Tiba-tiba kepala sekolah memanggil namaku untuk maju ke depan, saat itu aku kaget ada apa ini. Dengan santai tanpa ada beban aku pun maju ke hadapan beliau di tengah lapangan upacara.Tiba - tiba kepala sekolah berkata dengan lantangnya.." Ini Slamet Adi Priyatna, Siswa PALING BRENGSEK DI SEKOLAH INI. JANGAN CONTOH DIA."..sekonyong-konyong bumi rasanya berputar. tak disangka tak dinyana kepala sekolah bisa berkata seperti itu. Aku hanya bisa diam membisu..tak tahu harus berbuat apa..dunia teras sempit...rasa malu, terpuruk, jatuh, seolah-olah tidak ada harganya menjadi satu. Ditengah lapangan upacara dengan disaksikan oleh ratusan siswa dan sebagian guru, aku tak tahu mau ditaruh kemana muka ini. Memang aku nakal, tapi aku bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan. Rasanya sungguh tidak adil jika aku dipermalukan seperti ini. Tapi saat itu aku memang lemah tak berdaya, setelah diitimidasi oleh orang tua siswa sekarang aku mengalami intimidasi yang jauh lebih berat. Akan tetapi aku harus tetap tenang menghadapi itu semua. Saat itu ditengah aku dipermalukan oleh kepala sekolah ku, aku bertekad dan berjanji bahwa sebelum aku lulus, dia harus sudah mencabut statement tentang diriku ditempat yang sama.
Ternyata Allah mengabulkan doaku...dengan izin Allah kebetulan aku dan teman-teman mengikuti Lomba Bidang Studi antar sekolah yang sebenaarnya aku pun tidak boleh untuk ikut serta karena mengingat track recordku, akan tetapi guru pembimbing tetap berupaya fair dengan menguji seluruh siswa siapa yang pantas dan berhak mewakili sekolah dalam lomba itu. Alhamdulillah aku masuk tim 3 yang artinya memang bukan tim unggulan. Saat itupun aku tidak terlalu bersemangat, semua ku ikuti mengalir saja. Dengan izin Allah ternyata timku berhasil masuk ke final dibanding dengan tim 1 dan tim 2 dari sekolahku.Aku teringat dorongan yang luar biasa dari guru pembimbing maupun teman-teman,' Ayo met, kamui bisa buktikan bahwa kamu bisa berprestasi..bahwa kamu bukan murid paling brengsek disekolah.' Dorongan itu melecut semangatku untuk berupaya meraih juara 1 dalam kompetisi itu. Alhamdulillah dengan izin Allah tim sekolahku berhasil menjuarai Lomba Bidang Studi antar sekolah se- DKI Jakarta.. Ada kebanggan yang luar biasa saat itu ketika membawa piala - piala kemenangan. Ketika kami datang, kami disambut bagai pahlawan yang menang perang. Saat itu aku melihat raut wajah yang berbeda dari kepala sekolah dan guru- guru yang melihatku datang membawa kemenangan.
Senin pun tiba..kembali sekolah mengadakan upacara bendera, aku teringat kembali kenangan buruk upacara bendera. Tetapi hari itu, hari yang luar biasa yang tak kan mungkin terlupakan seumur hidup. Kembali aku di panggil untuk maju ke depan bersama tim yang berhasil membawa kemenangan sekolah. Setelah penyerahan piala kepada sekolah dari tim kepada sekolah yang dalam hal ini diwakili kepala sekolah. Kepala sekolah lalu naik ke podium lalu berkata.." Dulu Slamet Adi Priyatna adalah siswa yang paling brengsek, akan tetapi sekarang Slamet Adi Priyatna adalah Siswa Teladan di sekolah ini, maka contoh dia..Luar biasa doaku terkabul..akhirnya kepala sekolah mencabut statement dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Itulah pengalaman dan pelajaran yang pernah saya alami belajar bangkit dari keterpurukan maupun kegagalan.
Sejak saat itu saya tidak pernah lagi mengalami RASA TAKUT GAGAL MAUPUN JATUH KARENA SAYA YAKIN BAHWA SAYA PASTI BISA BANGKIT KEMBALI.....

(Terima kasih untuk guru-guruku serta teman-temanku yang senantiasa mensupport ketika aku jatuh tanpa bantuan mereka tak mungkin aku bisa menjadi seperti ini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar