Sang Pembelajar

Senantiasa berusaha belajar menjadi yang terbaik agar bisa berdaya guna bagi masyarakat sekitarnya

Jumat, 20 Mei 2011

KRITIK

Kemarin ketika sedang asyik bekerja, tiba-tiba ada sms masuk yang tidak diketahui namanya. Aku membuka dan membacanya. Ada hal yang menarik dari sms itu, orang tersebut menyampaikan kritik kepadaku tanpa menyertakan nama dan alasannya. Beliau hanya menyampaikan pesan dari sebagian orang-orang bahwa aku itu orangnya galak,egois, mau menang sendiri, suka ngeles, banyak alasan sehingga tidak ada yang bisa ngalahkan hujjahku...Saat itu aku hanya membaca dan terdiam sesaat..aku hanya membalas smsnya terima kasih.
Hmmmm..banyak cara orang memberi kritik, ada yang terbuka, ada yang diam-diam, bahkan ada yang ngomong di belakang...Semua tergantung dari individu masing-masing. Akan tetapi ada satu pelajaran yang bisa diambil dari kritik itu, kebetulan aku termasuk orang yang vulgar dan berusaha untuk tetap sportif dalam menyampaikan kritik, yaitu apapun kritik yang diberikan itu menunjukkan dua hal kepada yaitu pertama perhatian dan kasih sayang, kedua sebaliknya yaitu kebencian kepada yang bersangkutan. Kembali kepada kita masing-masing.
Satu kebiasaan jelekku adalah jika kritik itu tidak pernah disampaikan langsung kepadaku, biasanya aku sangat cuek dan tidak peduli dengan orang-orang yang hanya berani ngomong di belakang. Akan tetapi sebaliknya jika kritik itu disampaikan langsung, maka aku sangat menghargai keberaniannya untuk sampaikan hal itu. Yang jadi masalah adalah tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengkritik secara fair kepada yang bersangkutan. Ini adalah masalah mentalitas yang memang harus diperbaiki. Disisi lain penyakit mental kritik itu adalah menyerang sisi pribadi bukan pada perbuatan maupun kerja orang itu. Ini juga membuat kritik itu tidak membangun malah cenderung jadi kontra produktif. Mengapa demikian ,karena kita disibukkan dengan hal yang remeh temeh. Kita disibukkan dengan masalah yang sampah, kita dialihkan dengan masalah yang utama. Mungkin ini terjadi karena kebiasaan masyarakat maupun bangsa kita yang cenderung melatih kita untuk tidak sportif atau tidak berani secara terbuka menyampaikan kritik kepada siapapun.
Ala kulli hal membangun kebiasaan sportif adalah proses yang panjang dan butuh tekad yang kuat dan yang tak kalah penting keberanian untuk menerima kritik secara lapang dada itu juga merupakan PR besar yang memang sama-sama harus dimiliki secara bersamaan. Semoga aku termasuk orang-orang yang selalu belajar dari pengalaman sehingga aku semakin lebih baik lagi dalam kehidupan ini dimasa yang akan datang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar