Setiap orang punya ambisi. Ambisi itu membuat hidup semakin bergairah dan penuh makna.
Namun disisi lain ambisi akan merusak ketika kita tidak mampu mengelola ambisi itu menjadi sebuah energi yang positif.
Dalam beberapa hari yang lalu ada beberapa peristiwa yang ini menyadarkanku betapa ambisi itu bisa sangat berbahaya bagi siapapun terutama adalah orang terdekat.
Ada kejadian yang menarik ketika dalam suatu perlombaan telah diumumkan siapa pemenangnya. Tiba-tiba ada 2 orang ibu yang datang menghampiri panitia. Mereka memprotes penilaian dewan juri. Mereka merasa bahwa karya anak mereka lebih baik dari pemenang lomba tersebut. Saat itu panitia hanya diam mendengarkan komentar mereka yang lumayan pedas, apalagi dalam kondisi yang panas dan melayani banyak orang.
Akhirnya aku pun turun tangan untuk mendengarkan apa masalah mereka. Setelah ditemui mereka pun tetap memprotes kemenangan orang lain yang menurut mereka tidak layak dan tidak pantas untuk menang. Kekecewaan besar sangat tampak dari kedua orang ibu tersebut. Komentar-komentar yang tidak mengenakkan pun keluar dari lisan mereka. Panitia tidak adil dan tidak profesional, juri yang tidak profesional, cenderung memenangkan anak dari panitia kegiatan tersebut. Akhirnya setelah puas mereka mengatakan demikian, aku pun angkat bicara untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku pun bersama mereka melihat ulang karya dari anak mereka. Setelah ditemukan, memang ada kejanggalan dari karya mereka. Memang secara hasil mereka lebih baik akan tetapi karya mereka tidak original melainkan sudah ada penambahan dari karya mereka yang tidak sesuai dengan kriteria panitia. Disisi lain ibu yang lain tetap protes dengan keras, akhirnya aku memanggil sang juri untuk menyampaikan alasannya. Akhirnya sang juri pun menyampaikan kriteria tentang lomba tersebut dan memang juri telah mengingatkan seluruh peserta dan pengantar untuk berusaha secara mandiri terhadap karya mereka. Protes keras dari mereka malah jadi bumerang buat mereka karena secara langsung mereka telah membuka aib mereka sendiri. Bahwa mereka 'ikut campur' dalam karya anak mereka.
Inilah contoh kasus yang terjadi beberapa hari yang lalua. Pada saat itu terlintas dalam pikiranku, sebenarnya yang ingin ikut lomba anaknya apa orang tuanya. ? Yang punya ambisi menang anaknya apa orang tuanya..? Secara pribadi aku kasihan dan prihatin terhadap anaknya. Bagaimana kondisi psikologis anak itu dalam kondisi orang tua yang memiliki ambisi pribadi terhadap anaknya. Betapa banyak kasus terjadi anak jadi korban eksploitasi dari orang tuanya. Semoga aku bisa belajar menjadi orang tua yang lebih baik dan tidak memiliki ambisi apapun terhadap anak-anakku kelak dikemudian hari. Semoga....
Setuju pak, skrang sudah sulit membedakan mana sebenarnya ambisi si anak sendiri ato bahkan ambisi orang tua yang mendominasi,
BalasHapuscontohnya :
Ktika musim pembagian raport, betapa bangganya orang tua memamerkan raport anaknya kepada famili & tetangga dengan menyebutkan ranking, dan bukan kemampuan yang dimiliki anak.
say hallo from www.jawarakampung.blogspot.com