Sang Pembelajar

Senantiasa berusaha belajar menjadi yang terbaik agar bisa berdaya guna bagi masyarakat sekitarnya

Selasa, 07 Juni 2011

PEMIMPIN

"Setiap kalian adalah pemimpin, maka setiap pemimpin akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."
Dalam kehidupan sehari-hari istilah ini sangat lekat. Bahkan cenderung dimasyarakat menjadikan ini sebagai alat untuk menunjukkan siapa dirinya.
Tipologi pemimpin merupakan cerminan dari orang yang dipimpinnya. Jika pemimpin itu orang yang arogan, maka yang dipimpinnya adalah orang arogan juga. Sebaliknya jika pemimpin itu menghargai perbedaan dan membuka keran dialog dan menghargai setiap usulan dari orang yang dipimpinnya, otomatis yang dipimpinnya pun sama seperti pemimpinnya.
Jadi kalau kita ingin melihat karakter pemimpin, maka kita bisa melihat tipologi masyarakat yang dipimpinnya.
Ada peristiwa yang membuat ku merenung sejenak apa yang terjadi sesungguhnya di sebuah organisasi itu.
Beberapa waktu yang lalu, aku diminta untuk mengisi pelatihan disebuah organisasi politik, saat itu ketua panitia sudah berkoordinasi dengan jajaran kepanitian. Entah mengapa terjadi sesuatu yang sepertinya tidak conect komunikasi antara pemimpin organisasi tersebut dengan ketua panitia.Bahkan beberapa hari sebelum acara dilaksanakan, aku diminta hadir dalam rapat panitia bersama pemimpin organisasi tersebut. Saat itu aku hadir dan mencoba untuk mendengarkan apa yang sesungguhnya terjadi dari sudut pandang mereka semua. Ternyata memang ada miss komunikasi yang lumayan tajam diantara mereka. Ketika aku menjelaskan tentang pentingya acara ini dan durasi waktu yang dibutuhkan, seluruh panitia sepakat dengan hal itu, kemudian hasil syuro tersebut akan disampaikan kepada pemimpin organisasi tersebut.Pada saat rapat, pemimpin organisasi tersebut mendahului izin untuk tidak mengikuti rapat sampai selesai karena ada acara lain. Dan memang apa yang dikhawatirkan terjadi, bahwa pasca rapat terjadi perdebatan yang alot terkait dengan durasi pelatihan tersbeut beserta harapan dari pemimoin organisasi tersebut. Aku hanya bisa mengurut dada melihat fenomena ini, akhirnya aku pun membesarkan jiwa ketua panitia beserta jajarannya bahwa berapapun alokasi yang disediakan aku siap saja karena prinsipnya adalah melayani kebutuhan anggota.
Selama 3 hari menjelang acara, kami tetap berkomunikasi secara intensif untuk memastikan suksesnya acara tersebut. Malam hari menjelang acara, kami berkumpul lagi untuk memastikan acara beserta rundownnya. Ternyata dalam undangan kepada para peserta diminta hadir jam 07.30, sedang jadwal pelatihan dimulai jam 9 s.d. jam 12 siang, kami pun sepakat dan menerima seluruh alokasi waktu yang disiapkan.
Keesokan harinya, aku pun datang ke lokasi acara jam 7.45 pagi, saat itu aku pun berkoordinasi dengan panitia tentang kesiapan acara tersebut. Tanpa dinyana tanpa diduga, ternyata sang pemimpin membuat keputusan lain yang berbeda dengan rapat panitia, yaitu ada acara seremonial dari pemimpin wilayah organisasi tersebut. Aku pun kaget mendengarnya. Akan tetapi disini ternyata sang pemimpin menggunakan otoritasnya bahwa seluruhnya harus patuh dan taat dengan keputusan yang diambil. Dan hampir sebagian besar panitia hanya bisa menerima dengan kepatuhan tanpa ada upaya untuk memberikan masukan kepada sang pemimpin. Apa yang aku khawatirkan terjadi, bahwa sebagian besar peserta yang sudah hadir mulai tampak gelisah dan tidak nyaman, mengingat acara yang juga belum dimulai. Dan akhirnya menjelang jam 9.30 acara pun resmi dimulai dengan segala tetek bengek seremonialnya.
Aku hanya bisa mengamati dan menyaksikan betapa pemimpin betul-betul tidak menghargai kerja keras dari panitia beserta peserta yang sudah hadir lebih dahulu daripada rombongan.
Seringkali yang terjadi dilapangan bahwa pemimpin itu memiliki otoritas yang luar biasa, bahkan jika ada yang berbeda dengan pemimpin maka dengan mudahnya dicap tidak taat dan sebagainya.
Melihat fenomena tersebut aku hanya bisa diam termenung mengapa ini terjadi ditengah organisasi yang tingkat pemahaman agamanya lebih baik daripada orang kebanyakan. Idealnya mereka lah yang memulai menerapkan budaya menghargai ataupun menerapkan demokrasi yang ideal di tengah -tengah masyarakat. Secara pribadi aku prihatin dengan kondisi seperti ini. Aku juga mengakui bahwa aku pun bukan pemimpin yang baik, akan tetapi aku pun berusaha untuk terus belajar khususnya bekajar mendengarkan setiap masukan ataupun usulan dari orang-orang yang dipimpinnya.
Aku baru meenyadari mengapa Allah menciptakan kepada kita 2 telinga karena memang Allah meminta kita untuk lebih banyak mendengar dan menyerap setiap masukan dari setiap orang yang menjadi amanah kepemimpinan kita. Dari peristiwa yang kemari aku alami, secara pribadi aku merasa sedih dan kasihan dengan orang-orang yang dengan susah payah berusaha untuk memberikan yang terbaik akan tetapi penghargaan dari pemimpin dan keran untuk mendengarkan telah ditutup rapat oleh pemimpin. Maka dampak yang terjadi adalah orang-orang yang dipimpin cenderung pasif dan lebih banyak menunggu instruksi dan akhirnya itu membuat mereka jadi kehilangan kreatifitas dan inovasi yang positif bagi perkembangan organisasi tersebut. Kalau itu yang terjadi, maka akan ada stagnasi dalam berorganisasi. Aku bisa melihat betapa mereka lambat dalam merespons setiap permainan yang telah dibuat. Cenderung menunggu dan disuruh. Jiwa leadership dan inisiatif mereka telah hilang, yang ada adalah jiwa pengikut. Yaitu hanya mengikuti apa yang diperintahkan tanpa harus memahami apa makna perintah tersebut. Dan inilah yang terjadi, maka itu merupakan pertanda kegagalan sang pemimpin dalam membangkitkan potensi terbaik yang mereka miliki.
Dan yang terjadi saat ini merupakan warning bagi aku khususnya maupun bagi organisasi tersebut.
Semoga aku bisa terus belajar agar aku bisa menjadi pemimpin yang lebih banyak mendengarkan setiap aspirasi, pendapat, gagasan, ide, keluhan atau apapun dari orang-orang yang aku pimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar