Kadang dalam hidup ini tidak semua bisa berjalan sesuai rencana atau harapan. Ini bisa dalam keluarga, karier, organisasi atau dalam seluruh aspek kehidupan.
Sering kali terjadi dalam diri kita sebuah ambisi atau keinginan yang kuat untuk menjadi sesuatu atau meraih sesuatu.
Dalam banyak pelatihan atau seminar - seminar, banyak trainer atau motivator yang menyampaikan secara penuh berapi -api, bahwa setiap orang mampu dan bisa untuk meraih mimpinya. Apakah itu salah..? Tentu saja tidak, akan tetapi sering kali ketika kita terperangkap dalam mimpi - mimpi yang sedang kita bangun, kita lupa bahwa ada sisi lain yang harus kita siapkan agar diri kita bisa kembali bangkit ketika jatuh atau gagal dalam kehidupan.
Sering terjadi manusia itu mudah stress bahkan cenderung jadi tidak peduli dengan sesama karena mereka disibukkan dengan mimpi - mimpi yang sedang dibangun.
Aku sendiri secara pribadi mengakui bahwa ketika kita sedang membangun mimpi kita harus juga membangun ruang di hati kita untuk menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang kita alami.
Ada pengalaman menarik yang aku rasakan ketika aku menerima sesuatu yang diluar dugaan. Yaitu peristiwa pencopotan aku beserta tim dalam suatu organisasi.
Aku akui saat mendengarnya terasa sangat shock,kaget bahkan juga heran. Apa yang terjadi dan mengapa terjadi sesuatu yang diluar dugaanku sama sekali. Aku mencoba menerima kenyataan akan tetapi ternyata itu juga sulit. Aku akui itu terbawa ke dalam relung hati dan pikiran. Aku terus bertanya mengapa ini terjadi..Aku tidak puas dengan penjelasan bahkan secara pribadi aku kecewa dengan keputusan itu. Akan tetapi aku terus mencoba untuk mencari tahu dan berbagi dengan orang yang aku anggap mengerti tentang aku. Dan ternyata memang kadang keputusan yang diambil memang keputusan yang aku anggap tidak adil akan tetapi saat itu aku memutuskan untuk menerima keputusan itu walau itu terasa menyakitkan.
Memang menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan jiwa itu merupakan salah satu fase belajar yang paling sulit aku lakukan. Akan tetapi aku mencoba belajar menerima dengan langsung bertanya dengan para pelaku pengambil keputusan walau pun aku sadari itu tidak merubah keadaan. Inilah salah satu fase yang aku rasakan lumayan sulit untuk menerimanya karena keputusan itu diambil secara sepihak tanpa melibatkan tim yang ada.
Namun demikian apapun yang terjadi itu semua sudah tertulis dalam takdir manusia maka menerima itu semua salah satu seni untuk segera bangkit dari kenyataan yang kadang tidak sesuai dengan harapan.
Disinilah aku merasakan bahwa ketika kita bekerja, apa yang kita lakukan belum tentu sesuai dengan harapan dan keinginan orang lain untuk itu aku harus senantiasa menyiapkan diri ini untuk senantiasa menerima kenyataan yang kadang terlalu pahit untuk dirasakan. Namun dengan peristiwa yang terjadi aku bisa mengerti bahwa tidak semua orang bisa menerima. Aku pun termasuk orang - orang yang mungkin masih harus senantiasa untuk bisa menerima. Aku pun saat ini sedang berusaha untuk menerima...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar