Sang Pembelajar

Senantiasa berusaha belajar menjadi yang terbaik agar bisa berdaya guna bagi masyarakat sekitarnya

Rabu, 15 Juni 2011

PERLAWANAN

Perlawanan identik dengan ketidakpuasan, ketidakadilan, ketertindasan, ketimpangan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas dan aturan yang ada.
Namun jika bicara perlawanan, hampir semua orang sepakat dengan memandang hal itu sebagai suatu yang negatif. Siapapun orang yang pernah melakukan perlawanan, maka kecenderungannya orang tersebut akan dijauhi atau mungkin dikucilkan.
Setiap orang memiliki cara masing - masing dalam hal perlawanan. Ada yang melakukan perlawanan dengan diam karena mungkin dia tidak memiliki kekuatan atau keberanian atau bisa jadi dia menghindari keributan yang lebih luas.
Ada juga perlawanan dengan cara tulisan ketika ruang aspirasi dihambat maka dia akan menulis.
Ada juga perlawanan dengan menyuarakannya dengan berdialog atau mencari kebenaran dengan berkomunikasi dengan pihak - pihak terkait. Bahkan dalam tingkatan tertentu perlawanan juga dilakukan dengan cara fisik atau kekuatan yang ini merupakan salah satu jalan terakhir ketika tidak ada lagi cara untuk melawan.
Namun itu semua merupakan pilihan dari setiap orang untuk melakukan perlawanan terhadap sebuah kondisi yang tidak sesuai dengan realitas atau ketika ketidak adilan telah terjadi.
Secara jujur aku mengakui bahwa memang secara karakter dan watak yang aku miliki dan melalui proses pembentukan yang selama ini terjadi pada diriku, aku orang yang paling mudah melakukan perlawanan ketika ada sesuatu ketidak adilan terjadi.
Sering kali terjadi ketika aku melakukan perlawanan, aku tidak pandang bulu siapa yang ku hadapi. Bagiku yang penting adalah persoalan ini harus diselesaikan dan dituntaskan.
Aku teringat beberapa masa yang lalu ketika aku pernah berselisih pendapat dengan beberapa orang yang berbeda dan kebetulan pada saat itu aku melihat ada ketidak adilan dalam proses yang terjadi. Aku berusaha untuk mengingatkan bahkan keadaan ini terus berlarut-larut dan aku pun terus melakukan perlawanan terhadap masalah tersebut yang menurutku kurang tepat karena tidak sesuai dengan kondisi dan aturan yang ada. Pada kondisi tersebut berbagai upaya perlawanan telah aku lakukan terutama dengan cara yang bijak, namun demikian entah mengapa orang-orang ini begitu keras kepala dengan pendiriannya maka secara refleks aku mengatakan kalau memang tidak bisa diselesaikan secara baik-baik, mari kita selesaikan secara jantan satu lawan satu. Saat itu betapa terkejutnya mereka semua. Mereka tidak menyangka bahwa aku akan melakukan hal itu apalagi yang aku hadapi adalah senior dalam organisasi tersebut. Saat itu bagiku adalah masalah ini harus segera dituntaskan dengan cara apapun karena ini akan berdampak lebih jauh di masa yang akan datang.
Ternyata apa yang terjadi di luar dugaanku semua, mereka menghindari semua malah cenderung melebarkan masalah. Membuat isu atau rumor bahwa aku tidak puas sehingga aku melakukan perlawanan hingga menantang secara fisik.
Saat aku mendengar hal itu, betapa terkejutnya aku. Mengapa masalah ini jadi keluar dari konteks, Jadi cenderung menyudutkan ku karena sikap dan tindakanku. Padahal ada masalah besar yang menjadi inti masalah yang tidak tersentuh.
Namun aku tetap bergeming sedikitpun. Biarkan mereka menilai aku apa yang penting ketika aku melihat sesuatu yang berjalan tidak sesuai koridor dan ada ketidak adilan disana, maka otomatis naluri perlawananku pasti akan bangkit. Dan ini sudah sering terjadi berulang kali. Dan betapa banyak orang yang telah menjadi korban dari perlawanan yang aku lakukan. Kadang kita harus berani melakukan perlawanan secara terbuka walau kita tahu ini semua ada resiko yang harus diterima. Tapi ini memang harga yang harus dibayar. Secara prinsip bagiku aku tidak akan pernah merasa letih maupun takut ketika memang aku harus melakukan perlawanan apalagi jika ini sudah menyangkut rasa ketidak adilan maka siapapun pasti akan kuhadapi semua.
Dan memang ini adalah pilihan yang telah aku ambil. Bisa jadi aku dicap sebagai pemberontak karena senantiasa melawan namun aku tetap merasa merdeka dan nyaman karena aku telah menjadi diriku sendiri.
Memang tidak semua orang siap untuk melakukan perlawanan karena cap negatif yang ada didalamnya, namun tetap ada orang yang kritis untuk memberikan perlawanan ketika organisasi itu keluar dari kebijakan atau koridor yang ada yang cenderung mengakibatkan ketidak adilan menimpa organisasi itu terhadap anggotanya. Aku pasti menjadi salah satu orang yang ada disana untuk melakukan perlawanan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar