Jabatan itu adalah amanah. Jabatan bisa juga merupakan suatu prestise atau mungkin kehormatan. Atau mungkin jabatan itu merupakan sebuah kebanggaan sehingga ketika seseorang memiliki sebuah jabatan seolah-olah dia memiliki otoritas yang luar biasa besar.
Hal tersebut diatas bisa menimpa siapa saja, kembali kepada setiap orang masing-masing.
Berbicara jabatan, aku memiliki berbagai macam pengalaman terkait dengan namanya jabatan, dan dalam hal ini hampir semua memiliki kesamaan dalam endingnya.
Tidak terasa aku telah bersama dengan sebuah lembaga dakwah kurang lebih 13 tahun lamanya. Semenjak dari awal berdirinya hingga saat ini.
Ada pelajaran dan pengalaman menarik selama aku mengikuti lembaga ini terutama dalam hal jabatan. Aku bersyukur sebelum aku mengikuti lembaga ini,aku telah banyak mengikuti berbagai macam organisasi dengan berbagai jabatan yang pernah aku sandang.
Hal menarik ketika aku mengikuti lembaga ini adalah belum ada budaya diskusi or kritik yang sehat. Selama ini yang ada lebih cenderung budaya semi militeristik dalam hal pengambilan kebijakan walaupun tidak merata disemua lini. Akan tetapi budaya ini terasa sangat dominan.
Aku secara pribadi sering mengalami hal-hal seperti ini. Kebetulan aku memiliki sikap yang kritis terhadap sebuah kebijakan atau keputusan yang mungkin menurut pendapatku itu tidak melalui sebuah proses yang alami atau sesuai dengan aturan yang ada di lembaga tersebut. Mungkin sikap kritis yang ku miliki menjadi suatu yang dianggap aneh dan diluar kebiasaan yang berlaku dilembaga tersebut. Hal itu berdampak dengan seringnya aku tidak dilibatkan dalam struktur lembaga tersebut.
Sejak aku bersama lembaga tersebut, aku sering mengalami pencopotan jabatan sebelum berakhir sebuah periodesasi kepengurusan. Sering kali ini terjadi tanpa didasarkan dengan alasan yang jelas, bahkan cenderung lebih kepada subyektifitas pimpinan lembaga. Secara pribadi aku tidak mempermasalahkan hal itu cuma aku hanya bisa tertawa saja mengingat bahwa ternyata antara teori dan kenyataan sangat bertolak belakang.
Yang terakhir aku mengalami sebuah peristiwa yang mengagetkan yaitu ada keputusan dari lembaga tertinggi bahwa bidang yang aku terlibat didalamnya dibekukan semuanya kecuali ketuanya saja tanpa alasan yang bisa dimengerti. Ketika aku confirmasikan hal ini kepada ketua bidang ku dia hanya menjawab nanti saja dijelaskan akan tetapi jika aku penasaran silakan aku bertanya langsung dengan ketua umum. Secara pribadi aku sangat galau dan kecewa melihat kenyataan ini. Bukan berarti aku menginginkan jabatan itu lebih karena proses pembekuan sebuah bidang hanya diputuskan oleh segelintir orang tanpa mencoba melihat dari semua pihak yang terlibat. Aku mencoba untuk menanyakan hal tersebut kepada ketua umum dan ternyata beliau membenarkan keputusan hal itu dan alasan pembekuannya karena aspek moralitas yang menimpa pengurus di bidang itu berdasarkan masukan atau informasi dari pihak luar. Dan untuk menyelamatkan citra lembaga maka keputusan itu diambil. Aku hanya terdiam saja ketika mendengarkan hal itu. Disisi lain aku pribadi prihatin dengan kondisi ini terutama dalam kaitan kerja organisasi. Ketika sebuah bidang dibekukan kecuali hanya ketuanya saja bukankah berarti seluruh personil di bidang tersebut bermasalah. Saat itu aku mencoba menata hati melihat kenyataan dalam proses pengambilan keputusan yang cenderung tidak fair. Akan tetapi aku hanya bisa mencoba mengevaluasi kejadian ini sebagai pengalaman yang berharga buat aku ke depannya terutama jika aku menjadi pemimpin aku tetap berupaya adil dan obyektif kepada seluruh jajaran yang ada dibawahku. Dari sini aku sedikit menyimpulkan bahwa memang subyektifitas itu memang ada. Like dan dislike itu memang riil terjadi bahkan dalam sebuah lembaga yang memperjuangkan nilai - nilai Islam. Bahwa memang kita ini manusia bukan malaikat jadi wajar terjadi hal-hal demikian.
Dari peristiwa demi peristiwa yang pernah aku alami dalam hal jabatan, baru kali ini aku mengalami sesuatu ketidak adilan dalam prosesnya. Tanpa ada kabar sekalipun tiba-tiba datang keputusan pembekuan. Benar-benar luar biasa. Saat ini aku sedang merenungi apakah aku akan selalu bersama lembaga itu ataukah aku tetap bersamanya..Saat ini aku lebih bersikap pasif dan tidak lagi ada keinginan untuk berkarya lebih banyak bersama lembaga itu. Aku hanya ingin berkarya untuk ummat dimana pun dan dengan cara yang fair dan obyektif bersama orang-orang yang bersedia bekerja bersama dalam satu tujuan tanpa memandang status maupun kedudukan. Sekarang aku hanya ingin menjadi orang yang lebih merdeka. Menjadi diri sendiri seutuhnya dan senantiasa bekerja dan berkarya tanpa harus direcoki dengan jabatan atau kedudukan dalam sebuah organisasi. Dan memang ketika kita terlibat dalam sebuah organisasi, keikhlasan adalah kunci dalam sebuah proses pembelajaran. Dan saat ini aku sedang belajar keikhlasan dalam niat dan perbuatan. Belajar dari sebuah teori menjadi sebuah aplikasi. Semoga aku bisa......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar