Berbicara keberanian dahulu waktu aku kecil anggapan yang ada saat itu adalah berani ketika berjalan sendiri ditengah kegelapan malam. Bahkan jika kita berani menantang orang lain untuk berkelahi satu lawan satu walau dengan orang yang lebih besar daripada aku.
Pemahaman ini terus berlangsung bahkan cenderung menjadi-jadi ketika aku memasuki sekolah baik SD, SMP, bahkan SMA. Seolah-olah saat itu tidak ada rasa takut sedikit pun. Jiwa ku yang saat itu cenderung ingin merdeka dan tidak ingin terikat terasa tersalurkan ketika aku bisa dan berani melawan kebijakan yang ada.
Tak terhitung sudah berapa orang yang sudah jadi korban bahkan nenekku sendiri orang yang sangat aku cintai dan hormati telah ikut juga menjadi korban karena keberanianku yang tidak pada tempatnya.
Saat itu aku merasakan betul bahkan cenderung menikmati kondisi tersebut. Bahkan pernah kejadian dengan seorang guru pun aku berani dan pernah membuat guruku kecewa dan saat itu tidak terbersit rasa bersalah sedikit pun pada diriku. Betul - betul aku rasakan aku menjadi orang yang berani bahkan cenderung menjadi liar tak terkendali.
Saat itu aku hanya ingin menjadi diriku dan orang tahu siapa aku. Dan itu berhasil. Namun disisi lain aku juga merasakan kesunyian dan kehampaan pada jiwa ini. Apakah aku akan selamanya menjadi seperti ini. Membuat orang-orang takut bahkan cenderung menghindar untuk bergaul dengan aku karena tidak ingin cari perkara dengan aku. Ada salah seorang sahabatku pernah mengingatkan aku, secara guyon dia pernah berbicara padaku untuk merubah sikap dan gayaku yang kalau orang tidak tahu aku seutuhnya cenderung akan berpikiran negatif tentang diriku. Lalu dengan santainya saat itu aku menjawab biarkan saja orang lain menilaiku seperti yang dia mau, sepanjang mereka tidak berani menyampaikan kepadaku, buat apa di pedulikan..Lalu sahabatku berkata bagaimana mereka mau sampaikan melihat kamu aja udah ngeri mereka. Saat itu aku hanya tertawa saja lalu aku bilang kepada sahabatku..mereka semua salah buktinya kamu aja berani untuk bicara kepadaku dan mengkritikku dan aku pun terima hal itu. Sahabatku pun kembali menasihati ku cobalah bersikap lebih santai dan jangan terlalu keras dalam bersikap ketika ada sesuatu yang kurang pas di hati. Aku pun akhirnya menerima saran sahabatku walau aku akui saat itu dialah orang yang pertama memberi masukan kepadaku. Aku hargai keberaniannya untuk menyampaikan hal itu. Secara pribadi pun aku salut dia begitu pandai mencari momen yang tepat untuk meyampaikan hal itu kepadaku.
Pada akhirnya aku menemukan hal lain terkait dengan keberanian yang mungkin selama ini aku pahami yaitu ketika aku mengalami masa-masa terberat dalam hidupku. Disaat semua orang menghindar bahkan cenderung menyalahkan atas tindakanku disisi lain meninggalkanku disaat aku mengalami masalah. Ternyata di luar dugaan dari sinilah titik balik aku merubah persepsiku tentang makna keberanian. Disaat itulah nenekku dengan tenang dan bijak mengatakan seorang laki - laki pemberani itu tidak boleh lari dari masalah. Dia harus berani menghadapi masalah itu dan bertanggung jawab terhadap masalah yang dihadapinya secara sendiri tanpa melibatkan siapapun. Seorang laki - laki pemberani itu harus mau mengakui kesalahan dirinya dan mau menanggung resiko yang memang harus dia pikul. Itulah yang disebut keberanian. Saat itu aku tersadarkan bahwa memang ada yang salah dalam diri ini. Aku merasakan ada kekuatan yang luar biasa yang mengalir dalam tubuhku. Ada semangat baru. Ada keberanian yang membucah di dada ini. Seolah-olah ada ketenangan yang luar biasa. Ada kemantapan dalam kekuatan tapak-tapak kaki ini untuk melangkah.
Maka aku pun segera bergegas untuk menyelesaikan seluruh masalah yang aku buat. Aku datangi satu persatu dan saat itu untuk pertama kalinya aku belajar untuk mengakui kesalahan diri tanpa ada tekanan dan mau bertanggung jawab atas segala perbuatan yang pernah aku lakukan. Saat itu aku merasakan ketenangan bathin serta kebahagiaan yang luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan kemenangan yang berhasil aku lakukan untuk menaklukan kesombongan yang ada dalam diri ini.
Aku pun teringat dengan sahabatku juga yang ternyata disaat orang-orang menjauhiku, dialah yang mendampingiku disaat aku terjatuh bahkan dialah yang memotivasiku untuk memiliki keberanian untuk bangkit lagi dari keterpurukan ini. Dialah yang mengajarkan sisi keberanian yang lain yaitu keberanian untuk bangkit dan melangkah kembali. Sesuatu hal baru dan terasa begitu damai ketika mencoba menerapkan apa yang dia sampaikan. Dia mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah jatuh tapi tidak semua orang yang memiliki keberanian untuk bangkit dan melangkah kembali. Sering kali yang terjadi adalah ketika terjatuh yang ada hanya merutuk dan menyesali padahal itu semua tidak menyelesaikan masalah bahkan cenderung itu malah membuat beban semakin berat untuk dipikul.
Inilah pelajaran tentang makna keberanian yang aku dapatkan. Ternyata ada sisi lain tentang makna keberanian yang memang belum aku pahami bahkan aku cenderung salah dalam menempatkan makna keberanian itu.Ternyata masih ada hal lain tentang makna itu. Aku sangat bersyukur bahwa aku memiliki seorang nenek dan sahabat yang mau mengajarkan tentang makna keberanian yang lain yang memang aku belu memilikinya. Dan aku merasakan bahwa masih banyak makna keberanian yang lain yang aku belum mempelajari dan menerapkannya. Waktu dan kehidupan serta orang-orang yang tulus yang senantiasa mengajarkan padaku tentang pelajaran itu dimasa yang akan datang. Semoga aku bisa memaknai hakikat keberanian yang benar dan seutuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar